Beranda Ruang Cerpen Sebuah Perjalanan Cinta Part I

Sebuah Perjalanan Cinta Part I

319

Segerombolan anak-anak SMA tertawa-tawa dan bergembira karena hari itu pengumuman kelulusan setelah perjuangan mereka selama berbulan-bulan menempuh Ujian Negara.

Tiara duduk disalah satu sudut ruangan kelas yang selama ini tempat dia belajar serta menuai cerita indah bersama teman-teman serta kekasih. Ya, Rio yang selama ini teman satu kelas sekaligus kekasih hatinya yang mengisi masa-masa SMA menjadi terasa indah dan ceria.

Ah, sebentar lagi pasti masa-masa indah itu akan berakhir karena terpisah tujuan sekolah dan cita-cita, dalam hati Tiara berkata. Cinta Rio dan Tiara demikian sempurna dan ingin terus bersama walau jarak dan waktu harus memisahkan demi sebuah cita-cita.

Bayangan-bayangan indah bersama Rio hadir dipelupuk mata Tiara, cita-cita terus bersama sampai membangun rumah tangga idaman mereka berdua seakan indah adanya, tiba-tiba pandangannya diikejutkan oleh sosok wajah ibunda tercinta …😢

“Ibu pokoknya enggak mau tau, kamu harus putus sama Rio mu itu, ibu enggak suka. Liat tampangnya saja ibu enggak simpatik. Jangan membantah titik.” Oh Tuhan seakan neraka itu demikian dekat di ubun-ubun kepala Tiara jika ingat kata-kata sang ibunda tercinta. Terbayang seorang laki-laki yang gagah perkasa degan seragam ajaibnya yang bikin semua wanita tua muda terpikat dan terpesona. Tetapi tidak buat Tiara, dia laki-laki biasa pada umumnya yang baru dia kenal beberapa bulan sebelum pengumuman kelulusan SMA, laki-laki itu bernama Arjuna.

Ah sedikit penyesalan dalam hati Tiara “Kenapa saat selesai les Bahasa Inggris sore itu, aku tidak pulang bareng Sari dan Ida naik mobilnya atau kenapa aku lewat jalan itu sehingga bertemu si Arjuna. Kenapa waktu itu aku biarkan dia mengikutiku berjalan dan naik kendaraan umum kemudian ku beritahu nama dan sekolahku jadi saja dia mencariicari keberadaanku.”  Ya sejak kenal Arjuna, Tiara seakan menemukan neraka dalam hidupnya.

“Aku enggak suka dia, Bu. Aku enggak suka, jagan paksa aku. Aku berhak menentukan siapa yang berjalan bersamaku dan ku cintai. Aku mohon Ibu jagan paksa aku untuk mencintai orang yang tak bisa ku cintai. Jagan, Ibu….. aku enggak sanggup menyakiti hati Ibu dan Rio,” sambil bersujud memohon. Memori itu bermain-main didalam pikiran Tiara dengan jelas dan tanpa terasa cairan bening itupun menetes dipipi Tiara. Air matanya bak air bah yang tak terbendung lagi.

Hai sayang, lagi apa kamu duduk sendiri disitu? Ayoo keluar kita senang-sennag bersama teman-teman mumpung masih bisa kumpul dan bercanda. Besok kita sudah berpisah,” tiba-tiba Rio hadir di depan pintu kelas dan mengagetkan Tiara. Ia buru-buru menghapus cairan bening yang ada dipipinya agar Rio tidak tau kalau dia habis menangis.

Sambil menatap Rio yang menunggunya di depan pintu, Tiara buru-buru menghampiri Rio dan membuang segala kegundahan hatinya untuk bisa larut dalam keceriaan bersama teman-teman dan kekasih hatinya. Ah gembira itu hanya sesaat, hati kecilnya tak bisa dia bohongi. Sesungguhnya ia sedang bersedih. Luka itu terlalu dalam dan tak sanggup dia ungkapkan pada Rio karena pasti dia pun akan merasakan luka yang dalam sama seperti yang dia rasakan saat ini.

Setelah pengumuman itu, hari-hari Tiara benar-benar dipenuhi hujan air mata. Pada akhirnya Rio tau kalau kisah cinta mereka terhalang oleh restu orang tua Tiara. Semetara orang tua Rio sangat bahagia sejak Rio dekat dgn Tiara karena Rio berubah menjadi anak yang baik. Tiara juga sudah dianggap seperti anak sendiri di keluarga Rio.

to be continuedhhttps://wiwiekhargono.com/2019/01/23/sebuah-perjalanan-cinta-part-ii-2/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here