Beranda Ruang Cerpen Sebuah Perjalanan Cinta Part III

Sebuah Perjalanan Cinta Part III

324

Seminggu berlalu Rio tak ada kabar berita. Tiara disini menunggu dengan harap-harap cemas akan kedatangannya. Terbayang akan pertanyaan dan jawaban apa yg harus dia berikan karena belum ada sedikitpun perubahan keadaan yang ia harapkan. Hingga suatu sore Tiara mendapat berita dari sahabatnya kalau Rio menunggunya disuatu tempat yang biasanya mereka berjumpa.

“Haai apa kabar? Gimana keadaanmu sejak tak ada aku? Aku kangen kamu saying. Maaf tak memberi kabar karena aku ingin semua urusanku cepat selesai dan segera bisa menemui kamu,” kata Rio. Senyum khas dan gaya menggodanya tak berubah sedikitpun, batin Tiara ketika pertama berjumpa dengan Rio sejak perpisahan kemarin. Rasanya ia ingin memeluk dan mengatakan kerinduan yang sama tetapi Tiara takut jika tiba-tiba pertanyaan yang menakutkan datang.

Pertemuan itu terasa kaku sekali seperti 2 orang yang baru kenal, bukan seperti sepasang kekasih yang lama tak berjumpa. Jantung Tiara berdetak degan keras ketika tiba-tiba Rio memegang tangannya dan pertanyaan yg ditakutkan Tiara pun akhirnya tiba. Tiara  tersentak diam, terasa tenggorokannya kering tak mampu bersuara. Sedikit mengeraskan pegangan dan suaranya, Rio mengulangi pertanyaannya.

“Aku tak punya keberanian untuk pergi jauh dari keluargaku. Aku tak punya keberanian untuk menolak keinginan ibuku. Aku tak punya keberanian untuk memenuhi keinginanmu saat ini. Tapi percayalah aku akan berjuang untuk kita bisa mendapat restu dari orang tuaku,” jawab Tiara.

Rio melepas genggaman tangannya dan menatap dalam Tiara seakan tak percaya akan jawaban Tiara barusan.

“Aku mau tenang belajar. Aku ingin segera menyelesaikan study dan bekerja. Kemudian kita segera menikah. Itu janjiku pada diriku dan orang tuaku. Aku enggak tenang jika kamu jauh dariku, aku enggak rela kamu dekat-dekat orang itu dan itu semua akan mengganggu konsentrasiku dalam menyelesaikan kuliahku. Karena itu aku meminta kamu untuk memilih aku atau dia. Kamu tetap bisa kuliah bersamaku dan itu menjadi tanggung jawab orang tuaku yang sudah menyetujui itu semua. Terasa berat suara Rio ditelinga Tiara. Sama beratnya seperti pilihan yang Rio berikan.

”Aku ingin kamu menjawabn sekarang juga karena nanti malam aku harus segera balik dengan kereta paling malam hari ini jg,” sambung Rio.

Aaaakkuuuu enggak bisa ikut kamu Rio. Aku takut jadi anak durhaka,” hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut Tiara sambil terisak-isak, Tiara tak sanggup lagi menahan derasnya air mata. Rio memeluknya dengan erat seakan ingin menenangkannya dan memberi perlindungan atas ketidak berdayaan kekasih hatinya.

“Aku mengerti Tiara. Aku sangaat mengerti. Jangan menangis, aku tidak sanggup liat kamu terus menangis. Aku tau semua ceritamu dari Puji, sahabat kita. Setiap hari aku selalu pantau keadaanmu sayang. Aku enggak mau kamu selalu terluka dan menangis  karena aku terlalu mencintaimu saying karena itu aku ingin kamu ikut aku agar beban itu hilang dr kehidupanmu,” balas Rio.

Sunyi tanpa suara. Keduanya hanyut terbawa suasana duka. Tiba-tiba Rio bertanya lagi “Mau kan sayang kamu ikut aku? Dan kuliah sama-sama disana?” Tiara tak menjawab, hanya menggelengkan kepala dan air matanya kembali jatuh dipipinya.

to be continued https://wiwiekhargono.com/2019/01/23/sebuah-perjalanan-cinta-part-iv/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here