Beranda Ruang Cerpen Sebuah Perjalanan Cinta Part IV

Sebuah Perjalanan Cinta Part IV

284

“Baiklah aku tidak akan memaksa. Itu pilihanmu dan jujur, ini berat buatku untuk melupakanmu karena kamu wanita yang pertama aku kenal kemudian aku cintai. Aku ingi sekali kamu menjadi pendamping hidupku. Aku akan butuh waktu lama melupakan kamu dan semua yang pernah kita lalui bersama. Mungkin ini takdir cinta kita. Tidak bisa bersama karena terhalang restu orang tuamu. Aku mencoba ikhlas dengan keputusanmu dan pelan-pelan melupakan semuanya. Jika suatu saat takdir mempertemukan kita kembali, aku yakin cinta itu masih ada dan akan tetap ada dihatiku. Aku harus pergi sekarang. Keretaku sudah menunggu. Jangan pernah menangis lagi dihadapanku karena aku tak ingin menyaksikannya lagi. Semua harus bahagia karena aku sudah pergi dari kehidupanmu,” tutup Rio mengakhiri perjumpaan mereka malam itu.

Sambil menghapus air matanya Tiara, Rio merogoh saku celana mengambil sebuah peniti kemudian menusukannya ke salah satu jarinya. Keluarlah sedikit darah dan kemudian mengambil tangan Tiara, melakukan hal yg sama kemudian menyatukan darah itu sambil berkata “Kita memang dipisahkan oleh fisik, jarak dan waktu namun jiwa dan hati kita diikat oleh molekul-molekul darah yang telah bersatu. Entah kapan didunia atau di akhirat kelak kita pasti akan dipertemukan dan di satukan kembali.”

Beberapa saat, semua terdiam. Tiara bingung tak mengerti apa maksud semua itu.

“Apa kamu ingin aku antar pulang sekarang atau tetap bersama Puji? Karena aku harus pergi sekarang Tiara, tak punya waktu lama lagi aku bersamamu. Tiba-tiba suara Rio tersendat seakan ada yg dia tahan tak ingin dikeluarkan. Seketika cairan bening jatuh ditangan Tiara. Ia menatap Rio. Buru-buru Rio menghapus dan melepas genggaman tangganya dan pergi meninggalkan Tiara begitu saja.

Tiara terpana dan tak menyangka Rio pergi tiba-tiba tanpa menoleh lagi ke arahnya. Setelah sadar Rio telah pergi Tiara menangis sejadi-jadinya. Menyadari orang yang sangat dia cintai telah pergi meninggalkannya dan mungkin tak akan pernah kembali lagi. Lama Tiara menangis sambil menutup muka agar isak tangis yang semakin kencang tadi tak terlalu didengar orang yang lalu lalang. Batin Tiara berharap keajaiban akan datang. Rio kembali untuk menjemputnya pulang. Sedikit penyesalan akan keputusannya, namun tak mungkin rasanya merubah keadaan. Hati Tiara berkata “Tuhan ijinkan dia datang kembali memelukku dan membawaku pulang. Aku yakin jika itu terjadi maka dia adalah jodohku”

Batin Tiara terus berdoa dengan khusyul akan keajaiban itu. Disela-sela isak tangisnya yang mulai mereda, dia dikagetkan akan datangnya seseorang yang memeluknya dengan erat seakan ingin melindungi, menjaga serta mengayomi Tiara yang sedang kehilangan arah.

Tiara membuka tangannya yg sedari tadi menutupi wajahnya, hatinya gembira sekali seakan doanya dikabulkan Tuhan. Ada yg mendekapnya sesuai harapannya.

“Rio kamu blm pergi ke stasiun kereta?” sambil mengangkat wajahnya. Tiara terkejut bukan main degan apa yg ada dihadapannya.

“Aku bukan Rio, Tiara. Ayo pulang. Hari sudah mulai malam. Aku tadi ke rumahmu tapi kamu enggak ada dan kutanya Puji katanya kamu disini. Kasihan Ibu gelisah menunggu.” Ternyata Arjuna yang datang dan memeluknya sesaat tadi.

Tanpa banyak bicara Tiara mengikuti jejak langkah Arjuna yg berjalan menggandeng tangannya. Batinnya resah akan doa-doa yang sempat dia ucapkan dan panjatkan pada Tuhan disela-sela isak tangisnya tadi.”Tuhan apa dia jodohku? Orang yg selama ini aku benci.”

to be continued https://wiwiekhargono.com/2019/01/23/sebuah-perjalanan-cinta-part-v/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here