Beranda Ruang Cerpen Sebuah Perjalanan Cinta Part VII

Sebuah Perjalanan Cinta Part VII

354

Anton terdiam sejenak dan seketika Tiara menoleh kearahnya menanti kalimat lanjutan dari Anton.

“Apa benar itu pacar kamu? Kemarin dia menanyakan kedekatan kita dan bilang jangan ganggu Tiara karena kamu pacarnya dan kami sebentar lagi bertunangan.”

Serasa disambar petir, Tiara berusaha menutupi keterkejutannya. Batin Tiara berbisik “Dari mana Arjuna tau kalau dia dekat dgn kak Anton?” Tiara diam dan tak mencoba mengklarifikasi. Baginya percuma dan tak sedikitpun berminat untuk menjadikan Anton pengganti Rio. Buat Tiara ini kesempatan baik agar Anton tak berharap lebih padanya.

Tanpa disadari ada tekad dihati Tiara untuk membuktikan pada Rio kalau dia mampu menunggu dengan setia walau keberadaannya tidak diketahui.

Sejak pertanyaan itu intensitas kebersamaan dengan Anton mulai berkurang. Hanya sesekali mereka berdiskusi tentang mata kuliah dan butuh bantuannya. Sesekali juga, Arjuna yang mengajari Tiara untuk mata kuliah yang sifatnya hitungan dasar karena Arjuna sangat menguasai sekali dasar-dasar matematika.

Suatu malam ayah Tiara masuk kamar putrinya mendapati Tiara sedang menangis di kasur, sambil membelai lembut rambut anaknya, “Jagan kamu tutup pintu hati dan pergaulanmu, saying. Kembalilah seperti dulu. Ayah tak ingin memaksakan masa depanmu tetapi ayah tak ingin kamu menutup sendiri masa depanmu. Hiduplah dengan normal. Kita tidak pernah tau kapan jodoh itu dikirim Tuhan untuk kita. Bisa jadi orang yang baru kita kenal atau sebaliknya orang yang tak pernah kita sangka-sangka ternyata jodoh yang dikirim Tuhan untuk kita.”

Suaranya penuh wibawa yang akhirnya tanpa disadari pelan-pelan menyadarkan Tiara atas apa yang telah terjadi dihisupnya sekarang.

Suatu hari Arjuna mengajak Tiara untuk keluar dari persembunyian kamarnya.

“Tiara mau temani aku dan temanku jalan-jalan ke pusat hiburan di Jakarta?”

Kebetulan, hari itu Tiara merasa jenuh dengan suasana hatinya yang sudah sekian lama hanya berdiam diri di dalam kamar. Ini ajakan yang selalu Tiara tolak tapi kali ini tidak, Tiara memenuhinya.

“Baik, aku siap-siap dulu ya, Ka. Rencananya dengan siapa saja kita jalan-jalan, Kak? Apa aku boleh ajak sahabatku Puji untuk menemaniku ?” Tanya Tiara sopan.

“Dengan teman-teman satu asramaku. Tiara boleh ajak Puji untuk ikut jalan-jalan bersama kita.”

Ada nada gembira dari suara Arjuna ketika ajakannya disanggupi Tiara. Sejak malam perpisahan Tiara dan Rio, Tiara tak banyak bicara apalagi mau diajak pergi keluar rumah. Ini pertanda baik bahwa Tiara sudah mau bicara padanya pelan-pelan, batin Arjuna.

Tiara sedikit terhibur dengan perjalanannya bersama teman-teman Arjuna walau Puji tak bisa ikut.

“Kakak-kakak semua lucu masih seperti anak-anak. Bikin saya jadi sering tertawa. Makasih ya kak untuk hiburannya,” sapa Tiara pada teman-teman Arjuna ketika acara jalan-jalannya sudah selesai. Ada kebahagian di hati Arjuna melihat Tiara tersenyum dan tertawa seperti dulu. Senyum itu yang aku suka pada dirinya batin Arjuna sambil menatap Tiara dan berpamitan pulang pada seluruh anggota keluarga.

to be continued https://wiwiekhargono.com/2019/01/23/sebuah-perjalanan-cinta-part-viii/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here