Beranda Ruang Cerpen Sebuah Perjalanan Cinta Part VIII

Sebuah Perjalanan Cinta Part VIII

389

 

Hari-hari selanjutnya kebekuan antara Arjuna dan Tiara perlahan mulai mencair. Arjuna pandai memancing perhatian dan pembicaraan pada hal-hal yang disukai Tiara.

Tiara sang penyuka artis kungfu Cina yang serba bisa itu jadi sasaran tembak Arjuna untuk selalu bisa bicara panjang lebar dengan Tiara.

Sampai suatu hari, ” Tiara, film artis idolanya sedang tayang di bioskop Manggala. Aku mau nonton actingnya kali ini. Pasti kungfu versi barunya keren”.

“Oh ya, Kak, serius? Filmnya sudah tayang disini? Aku mau, Kak. Penasaran juga aku sama lanjutan yang kemarin. Hadeuh, pasti dia hebat banget acting kungfunya,” sambil matanya berbinar-binar.

Senyum dan suara Tiara menyambut ajakan Arjuna siang itu. “Ayo cepat siap-siap, jam 4 sore filmnya sudah main.” Tanpa menunggu terlalu lama Tiara segera berlari menuju kamar untuk berganti baju dan siap-siap pergi bersama Arjuna.

“Ibuuuuu, aku pergi ya mau nonton sama kak Arjuna. Enggak lama kok. Selesai nonton nanti langsung pulang,” teriak Tiara pada ibunya.

“Iya hati-hati ya. Titip Tiara. Jangan ngebut-ngebut bawa motornya,” jawab Ibu.

Setelah mencium tangan ibu, Tiara dan Arjuna segera bergegas pergi menuju motor yang dipakir didepan rumah Tiara. Mereka pergi sambil melemparkan senyum dan melambaikan tangan didepan pintu.

Popcorn dan aqua botol menjadi teman nonton mereka sore itu. Obrolan seputar aktor idola Tiara tak henti-henti mewarnai percakapan mereka berdua. Sampai tiba waktunya pintu bioskop dibuka dan mereka masuk dan duduk didalamnya. Tiara larut dalam suasana acting sang actor. Terlihat rona bahagia di wajahnya. Sesekali Arjuna melirik Tiara dan tersenyum melihat kebahagian Tiara. Walaupun gelap tetapi Arjuna masih bisa melihat senyum manis Tiara.

Saat Arjuna asik memandangi Tiara, tiba-tiba Tiara setengah menjerit dan memeluk Arjuna. Adegan yang tanpa di duga dan Arjuna pasti suka.

“Kenapa Tiara ?” bisik Arjuna.

“Eh maaf, Kak,” kelatahannya menyebabkan dia harus memeluk Arjuna.

 “Tak apa-apa lebih baik begitu daripada nanti kamu jantungan,” jawab Arjuna sambil tertawa kecil Tiara jadi tak fokus lagi pada film yg ditonton. Tiba-tiba sosok Rio hadir di matanya. Batinnya berbisik dan merasa bersalah karena pergi nonton bersama Arjuna. Tiba-tiba air matanya menetes mengingat Rio dan sejuta kerinduaannya. Tiara tak membendung air matanya yang semkin deras dan deras.

“Tiara kenapa? Kamu sakit? Atau aku salah berucap?” suara Arjuna terdengar panik ditelinga Tiara. Tiara tak menjawab. Berusaha menenangkan hati dan pikirannya akan Rio. Arjuna merangkul Tiara seakan ingin menjaganya agar luka yang menyebabkan Tiara menangis segera sembuh dan senyumnya kembali. Batin Tiara menjawab semua pertanyaan Arjuna “Iya, Kak. Hattiku yang masih sakit dan merindukan seseorang yang pergi entah kemana. Kamu enggak salah kak, aku yang belum siap menghadapi kenyataan.”

Film berakhir tanpa kesan. Mereka pulang dalam kebisuan sepanjang jalan. Namun, sejak itu Tiara seakan sadar untuk bangkit menghadapi kenyataan bahwa Rio memang benar-benar pergi dari kehidupannya. Usaha untuk mencari kabarnya pun tak pernah berhasil ia dapatkan dan menyadari bahwa Rio pun telah melupakannya.

Biarkanlah diriku sendiri
Hadapi kelukaan ini
‘Kan kusambut air mata ini
Walaupun pedihnya tiada terperi

 

To be continue -> https://wiwiekhargono.com/2019/01/24/sebuah-perjalanan-cinta-part-ix/

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here