Beranda Wiwiek's Journey Perjalanan Menuju Puncak Lawu (Part 1)

Perjalanan Menuju Puncak Lawu (Part 1)

321

Beberapa hal di dunia ini selalu diberi kesempatan ke 2. Ya….ini merupakan kesempatan ke-2 buat saya dan Mas Tri utk menikmati bagaimana rasanya mendaki gunung yg ketika kami muda belum sempat kami nikmati bersama.

Ketika mas Tri menanyakan mau jalan-jalan kemana sebagai hadiah ulang tahun perkawinan, spontan, saya minta utk naik ke gunung. Karena saya sebagai ibu yg masih mempunyai anak yg sedang bertumbuh dan berkembang, saya harus berpikir bagaimana membangun karakter dan mentalitas si bungsu agar tumbuh menjadi kuat dan taat pada Tuhannya dan menghormati orang tuanya. Melihat karakter dan energi yg dimiliki si bungsu mendaki gunung cara yg pas menurut saya. Gunung Lawu menjadi pilihan kami karena dekat dgn kota Solo dimana ibu&bpk dimakamkan sehingga kamipun berencana utk nyekar kesana juga. Maka dimulailah perjalanan yang penuh tantangan dan kenangan yang tak terlupakan.

Minggu malam selepas wisuda si bungsu, rombongan berangkat menuju Karang Anyar. Kami memilih cemoro sewu sebagai pintu masuk mendaki gunung lawu karena jaraknya yang lebih pendek dibanding dari jalur lainnya seperti ceto dan cemoro kandang. Berjuta mitos beredar di masyarakat tentang gunung tersebut, tapi saya percaya jika kita berniat baik, pasti hal-hal buruk dapat dihindari. Jadwal sedikit berubah dari rencana awal, yang seharusnya kami konvoy bersama-sama seluruh tim pendakian batal karena Mas Tri mendapat tugas dari pak Walikota. Saya melepas rombongan dini hari untuk berangkat sementara Mas Tri sudah beristirahat karena matanya terasa berat.

Keesokan harinya setelah Mas Tri menyelesaikan tugasnya, kami menyusul rombongan dengan menggunakan pesawat menuju Karang Anyar dimana rombongan sudah terlebih dahulu sampai dan beristirahat di homestay Anggrek Lawu. Tepat pukul 7 malam saya dan Mas Tri sampai di homestay. Kami beristirahat sambil briefing strategi apa yang harus kami lakukan mengingat kondisi saat itu habis hujan deras dan kondisi mata Mas Tri juga bermasalah karena terkena virus sehingga jelas akan menghalangi pandangan serta suasana nyaman dalam perjalanan dan saya melihat mas tri sedikit ragu utk melakukan pendakian malam itu. Beberapa berpendapat untuk melakukan pendakian esok hari agar kami bisa lebih siap mendaki mengingat kami semua pendaki pemula yang tidak mengetahui medan secara pasti tapi guide perjalanan kami memberi masukan dengan beberapa pertimbangan salah satunya jika ditunda perjalanan maka semangat akan kendor berakibat akan sulit menyelesaikan pendakian. Yang dibutuhkan saat itu adalah semangat dan rasa optimis mampu mendaki sampai Puncak Lawu.

Akhirnya setelah berpikir saya memutuskan untuk beristirahat sejenak serta makan malam bersama dan melakukan pendakian jam 9 malam. Waktu 2 jam menurut saya cukup buat kami untuk mempersiapkan diri dan perbekalan mendaki. Bismillah…tekad untuk mendaki sudah ditancapkan di hati maka saya yakin proses pendakian akan mampu kami lalui. Pukul 9.30 WIB kami mulai bergerak menuju basecamp Cemoro Sewu untuk lapor diri bahwa kami akan mendaki pada malam itu. Jumlah rombongan dari Bekasi adalah 24 orang, tetapi hanya 21 yang berangkat keatas ditambah 5 org sebagai porter/pemandu perjalanan. Untuk mendaki, kami menggunakan formasi yang sudah disesuaikan, di depan, tengah dan belakang agar jumlah rombongan yang banyak tetap masih akan terpandu dgn baik dan aman.

Setelah lapor diri kami briefing sejenak dan berdoa bersama semoga Allah SWT memudahkan serta melancarkan dan mendapat ridhoNya sehingga perjalanan akan memberi pelajaran dan kenangan terindah buat kami semua. Perjalanan menuju pos 1 lumayan jauh jaraknya tetapi kondisi jalan masih landai, ada beberapa tanjakanpun tidak terlalu ekstrem. Kami berjalan dengan santai dan saling menunggu jika ada yg merasa kelelahan serta penuh dengan keceriaan. Dalam gelap malam saya melihat lampu2 senter dari kepala rombongan yg mendaki. Samar2 suara musik dan lagu mengiringi perjalanan kami agar tak terasa sepi dan cukup menghibur kami. Sesekali saya menanyakan kondisi mas tri yg malam itu memang kurang fit utk melakukan pendakian. Berbeda dengan ade Bintang yg terlihat begitu prima dan bergaya seperti layaknya pemandu perjalanan kami. Sesekali suaranya terdengar berteriak memandu stop jika pemandu depan meminta stop atau jika rombongan belakang tertinggal jauh diapun berteriak meminta utk kami semua menunggu rombongan yg tertinggal….ah yg pasti seru dan sedikit menegangkan karena suasana malam ditengah hutan yg mencekam😊

Disela2 perjalanan ketika beristirahat, saya memandang kelangit lepas begitu indah dan menakjubkan ciptaan Tuhan. Bintang2 bertaburan pdhal sebelumnya hujan lebat datang seakan menguji tekad kami utk mendaki. Bulan sabit menyembul diantara tingginya pohon2 dan dedaunan mlm itu seakan2 mengikuti perjalanan kami. Memberi terang dan senyum menyambut kedatangan kami di wilayah itu. Ya …bln sabit seperti bibir org tersenyum….dgn rona merah menyala penuh cahaya 😘. Setelah melewati pos 1 menuju pos 2, ini perjlnan yg menurut saya membuat kami mulai lelah dan membosankan. Karena lebih ekstrem, penuh batu2 tanjakan yg tinggi2 serta terasa tak sampai2 pada tujuan di pos 2. Karena pada saat brefieng di awal diputuskan kami akan beristirahat dan memasang tenda di pos tersebut.

Udara dingin tak lagi kami rasakan. Justru keringat mengucur dengan deras di tubuh ini, dimana proses pembakaran sedang terjadi karena kami terus bergerak dan bergerak perlahan namun pasti. Kami sempat berhenti di pos bayangan utk melepas penat dan membuat minuman hangat serta roti bakar sebagai penguat energi yg hilang. Perjalanan terus berlanjut pelan namun pasti, suara burung mlm dan jangkrik sesekali menemani perjalanan kami dan terasa semakin berat karena batu2 tanjakan semakin tinggi dan terjal. Akhirnya kami sampai di pos 2 tepat pukul 3.30, jauh meleset dari prediksi awal kami akan sampai di pos tersebut. Tenda dan mkn malam sdh dibuat karena sdh terlalu lelah dan tak kuat menunggu proses pembuatannya, sy tak sempat memakannya karena tanpa terasa saya sdh dinegeri kayangan alias tertidur dengan pulas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here