Beranda Wiwiek's Journey Perjalanan Menuju Puncak Lawu (Part 2)

Perjalanan Menuju Puncak Lawu (Part 2)

291

Terbangun pukul 6 pagi, terlambat saya untuk sholat subuh,  segera bertayamum karena tidak ada air untuk berwudhu. Saya segera melaksanakan kewajiban untuk ibadah mengingat dan menyembah-Nya.

Ya… kondisi diatas memang sulit untuk air tak ada sumur apalagi kamar mandi. Kami memasang break exit untuk kami melakukan aktifitas toilet yang dilakukan diantara semak2 belukar dgn menggunakan air seadanya. Terbayangkan rasanya dan awalnya saya merasa jijik dan takut tp karena kepepet dgn air aqua akhirnya rasa tadi tak jadi masalah. Sambil sarapan saya berdiskusi dengan mas Tri membicarakan rencana kami selanjutnya, tak lupa saya menanyakan keadaan dan mengobati matanya yang masih sakit.

Mas Tri terlihat semakin ragu dan mempertimbangkan kondisi rombongan yang semalam terlihat sangat kelelahan dan akhirnya memutuskan untuk bertahan di pos 2 sampai kondisi pulih untuk siap2 turun lagi. Hati saya membenarkan apa yang dikatakan mas Tri tapi hati kecil saya yang lain mengatakan alangkah sayangnya jika pendakian hanya terhenti sampai disini dan kecewa sedikit melanda. Tapi saya menuruti apa kata mas Tri jika itu memang  keputusannya.

Berlari sijagoan kecilku yang hari itu terlihat masih ceria, menanyakan  kapan aku berangkat lagi naik keatas. Saya dan mas Tri berpandangan serta menceritakan alasan kami memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan tetapi ade Bintang ngotot ingin tetap melanjutkan perjalanan dengan alasan  bahwa dia ingin belajar dan menguji kekuatan mendaki sampai puncak serta mensyukuri karunia Allah dengan gayanya bak orang dewasa yang sedang bercerita.

Ya Allah …. Ade bintang tetap ingin naik keatas walau saya serta mastri dimintanya menunggu di pos 2 saja . Ah rasanya tak tega membiarkan si bungsu berjalan sendiri ditemani beberapa orang saja dari rombongan. Akhirnya saya dan mas Tri memutuskan untuk ikut melanjutkan perjalanan. Hati kecil saya sebenarnya juga bahagia karena akhirnya petualangan mendaki lawu dilanjutkan.

Jam 8 pagi pendakian menuju pos 3 dimulai. 4 orang dari rombongan memutuskan utk tdk lagi melanjutkan pendakian mengingat kemampuan memang melemah. Hati saya sebetulnya pun sedikit melemah ketika mendengar cerita dari pendaki yang turun bagaimana situasi menuju atas yang kian ekstrem dan menantang. Membayangkan kondisi fisik yang sudah lelah dan mas Tri yang sakit tapi segera saya tepis pikiran2 dan perasaan yang membuat hati dan semangat menjadi lemah. Bismillah.. semua akan baik2 saja dan kita akan sampai puncak gunung lawu nantinya.

Perjalanan menuju pos 3 tidak terlalu jauh, berbatu2 terjal lebih tinggi dr perjalanan menuju pos 2. Ade bintang masih terlihat ceria sedangkan celoteh2 dan gayanya banyak menggoda pendaki yang lainnya. Beristirahat sejenak kami di pos 3 membuka perbekalan dan bercengkrama.

Dalam hati selalu berdoa semoga mas Tri dikuatkan dan trs diberi semangat agar mampu mendampingi saya, ade bintang dan para pendaki yang ikut serta. Sesekali saya mencarikan mas Tri tempat utk duduk dan bersadar ketika matanya hbs obatin atau terasa berat utk terbuka lebar.

Membayangkan ketika kami menua nanti mungkin hal2 seperti ini terjadi. Saling memapah krn kondisi. Ini hal romantis menurut saya sama hal nya ketika mas tri dihari2 biasa sll bertanya” mau mkn apa …? Terserah mama ya 😍😘” saya merasa diperhatikan dan selalu bahagia .😊 Setelah cukup beristirahat kami memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan  namun tiba2 gerimis datang terpaksa kami memakai jas hujan agar tetap bisa melanjutkan perjalanan.

Perjalanan dari pos 3 menuju pos 4 sudah diinformasikan guide dan pendaki lain yang kami temui dijalan bahwa perjalanan akan semakin berat karena tumpukan batu yang tak beraturan yang semakin tinggi dan menghadang perjalanan. Oh ya……hal yang saya paling salut dari kebiasaan para pendaki yang saya alami adalah ketika bertemu dengan sesama pendaki lain. Saling menyapa, memberikan semangat , doa dan mendoakan agar perjalanan menuju puncak semoga dimudahkan dilancarkan serta saling menghormati ketika kami berpapasan dengan pendaki yg naik atau yang turun.

Ternyata benar informasi yg saya terima awal. Semakin terasa berat dan nafas semakin sesak. Kaki ini hanya mampu  5 langkah bergerak maju menaiki tumpukan batu yang tinggi dan semakin terjal serta tak ramah pada kondisi fisik kami yg semakin lemah dan tak bertenaga. Namun kami masih saling menunggu agar rombongan tak berpencar jauh. Yang muda masih bisa berlari kencang utk cepat menuju puncak namun mereka tetap menunggu dgn ceria.

Ajang menunggu mereka gunakan utk mencari spot2 yg bisa membuat jadi kenangan. Mendengar gelak tawa dan canda mereka pun membuat saya bahagia. Menyadari masa2 gagah bukan lagi milik saya dan mas Tri, namun yang bisa saya tunjukan pada mereka adalah kami punya semangat dan tekad yang sama seperti mereka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here