Beranda Wiwiek's Journey Cerita Perjalanan Menuju Puncak Lawu (Part 3)

Cerita Perjalanan Menuju Puncak Lawu (Part 3)

335

Berhenti sejenak di pos bayangan sambil membuka perbekalan dan menikmati suasana alam dipagi hari dan mengistirahatkan tubuh kami. Namun si bungsu tiba-tiba mengeluh pusing sekali. Saya ingatkan untuk istirahat dan mulai menjaga energi agar mampu naik sampai puncak sesuai keinginannya tadi pagi. Tiba2 dia muntah, semua yg ada diperutnya keluar dan tumpah. Keliatannya si bungsu masuk angin karena dia selalu menolak memakai jaket untuk menambah kehangatan tubuhnya. Si bungsu minta tidur sejenak karena dari kemarin tidurnya kurang nyenyak sebagai ekpresi bahagia mampu naik gunung walau baru sampai di pos 2.

Akhirnya guide kami memutuskan untuk membiarkan si bungsu tidur dan saya beserta rombongan dipersilahkan untuk jalan dulu agar tidak kesorean, kami sampai diatas puncak dengan sedikit berat hati aku terpaksa meninggalkan terbaring lemah di dampingi beberapa orang tour guide kami menyadari kondisi yang memang  saya tidak mampu lagi berlari dengan cepat jika ada hal-hal tak terduga terjadi.

Sampai di pos 4 saya belum melihat si bungsu mengejar rombongan kecilku,  mas tri lebih kuat berjalan di depan dengan di pandu salah satu guide kami, aku berjalan berkejaran antara tarikan nafas dan semangat untuk cepat mencapai tujuan. Alhamdulillah pos 5 dapat kami masuki dan beristirahat sejenak disana sambil mengatur nafas menunggu si bungsu untuk segera menyusul kami.

Namun komunikasi dan bayangan tidak bisa terlihat dengan pasti. Informasi yang kami peroleh perjalanannya dari pos 5 menuju sendang derajat  lebih landai berarti kami berjalan bisa sedikit santai tapi kaki saya semakin berat untuk digerakan lebih cepat karena energi sudah banyak habis terkuras dan lemas. Ku lihat mas tri semakin terkendala pandangannya, terlihat lebih santai berjalan namun tetap berjalan cepat, sampai meninggalkanku jauh didepan. Ku biarkan agar dia lebih cepat beristirahat karena aku lebih kasihan lagi jika harus menunggu gerakku yang lebih lembat karena napas sudah mulai tak lagi bersahabat. Tidurlah kami di pos bayangan menuju puncak, banyak orang menyebutnya sendang derajat. Banyak mitos dan cerita tentang tempat ini. Tetapi yang jelas aku dan mas tri serta rombongan merasa nyaman berada di tempat ini. Ada sebuah warung yang lumayan cukup besar dengan menjual hampir semua yang dibutuhkan para pendaki yang mampir untuk beristirahat dan menambah energi yang terkuras.

Kami langsung memesan untuk makan siang indomie telor plus nasi makanan favorit para pendaki. Selesai menyantap makan siang yang sediki terlambat. Aku tak lupa melaksanakan kewajiban sebagai muslim untuk sholat dzuhur udara dingin tak menghalangiku untuk bergegas keluar mengambil wudhu yang kebetulan di lokasi terdapat sendang yang punya beragam cerita sejarah tentangnya, sendang derajat yang di percaya akan membawa derajat kehidupan yang tinggi buat orang yang meminum airnya. Apapun itu cerita di balik legendanya saya berkeyakinan filosofi mendaki lah yang pas karna hanya orang-orang yang punya tekad dan semangat yang kuatlah yang akan mampu sampai diatas dan meminum air sendang itu artinya hanya orang-orang yg mampu bertahan dalam semangat dan kesulitanlah yang akan memperoleh derajat kehidupan nantinya.

Selesai aku sholat ade Bintang tiba dilokasi sendang derajat, segera ku suapi makan dan balur serta pijat tubuhnya dengan minyak.  Segelas susu hangat ku pesan agar tubuhnya sedikit nyaman begitu juga mas tri ku obati matanya kemudian kami sama-sama tertidur sambil berpelukan agar rasa dingin yg semakin menusuk tulang sedikit berkurang kami rasakan. Group anak muda berpamitan untuk melanjutkan naik keatas puncak. Jarak istirahat kami tinggal 30 menit lagi sebetulnya menuju puncak lawu untuk kami taklukkan,  tapi 2 orang jagoanku sudah terkapar tak berdaya maka aku putuskan untuk tetap bersama mereka menjaga dan mengistirahatkan diri untuk bersiap-siap turun kembali ke pos 2.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here