Beranda Wiwiek's Journey Cerita Perjalanan Menuju Puncak Lawu (Part 4)

Cerita Perjalanan Menuju Puncak Lawu (Part 4)

495

Perlahan namun pasti kami pelan pelan menuruni tumpukan batu2 dari pos sendang drajat. Ade bintang sudah kembali ceria dan mas tri sudah terlihat lebih sehat mereka berjalan di depan bersama guide yang mengawal kami. Saya di belakang mereka bersama rombongan yang lain. Jarak pandang kami sangat pendek kabut turun dgn tebalnya membuat saya sedikit lebih pelan berjalan dari biasanya karna sedikit terkendala dengan mata mulai terasa sakit, kelihatannya mulai tertular virus dari mas Tri.

Sore itu terlihat seperti malam yg dingin, gelap dan pekat sulit ditembus mata tanpa cahaya lampu yg kami bawa, hanya orang disamping dan didepan yg mampu masing2 kami lihat dengan jelas. Senandung zikir dan doa dalam hati agar Allah menjaga perjalanan pulang kami bergema sll dihati dan bibirku. Sesekali aku berteriak mengecek kondisi ade bintang dan mas tri bahwa mereka baik2 saja berjln didepanku begitu jg kondisi rombongan dibelakangku. Aku ingin meyakinkan rombongan bahwa walau dalam gelap malam dan rasa letih yg luar biasa kebersamaan akan tetap terjaga dengan rasa penuh bahagia apapun kondisinya. Kita pernah bersama disini lalui hari penuh warna warni meski tak seindah pelangi tapi kita pernah bermimpi. Percayalah walau digelap malam kita tak pernah merasa sendirian dan semua bintang dilangit walau tertutup awan tetap menemani perjalanan ini sampai akhir malam.

Perjalanan turun menuju Pos 2 terasa berat. Aku rasa karena kondisi mataku yg sedikit bermasalah, sementara kondisi alam dan cuaca lebih berat dari suasana mendaki. Konsentrasi lebih dibutuhkan saat itu karna jalanan yg licin bekas terguyur hujan dan kabut yg mendekap erat. Namun semangat untuk mampu menyelesaikan perjalanan sampai Pos 2 di tempat semula bersama-sama itu yg menjadi tekad kuat kami saling support, “kita pasti bisa…”

Bismillah akhirnya sampai juga di Pos 2 dengan senang dan bahagia. Tapi lambungku tak sekuat semangatku, terasa mual dan ku anggap bagian dari reaksi rasa bahagia karena kami semua mampu menaklukkan tantangan malam itu. Segelas teh tawar hangat dari Mas Tri menambah kekuatan bahwa saling memberi perhatian saat salah satu dari kami sudah menjadi tradisi bersama Bintang dan Bulan malam itu yang jadi saksi dan bukti bahwa kami semua saling mengasihi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here