Beranda Ruang Cerpen Sebuah Perjalanan Cinta Part XVIII

Sebuah Perjalanan Cinta Part XVIII

129

“Rio….bangun ” suara iwan teman kostnya membangunkan Rio dari tidurnya, ternyata semalaman Rio tertidur dimeja belajarnya sambil mendekap kertas bertulisan nama Tiara.Tanpa disadari kerinduan yang dalam pada Tiara membawanya ke alam mimpi.
Kejadian didalam mimpi serasa seperti nyata dan ingin dia ulangi lagi, tak ingin terbangun dari mimpi berharap itu nyata dan bukan mimpi.
” Ah… elo wan kenapa bangunin gue sih ! ” dengan nada kesal Rio menegur Iwan.
” ayo… bukannya kita udah janjian mau naik gunung minggu ini ? elo udah siap-siap belum ? ” balas Iwan pada Rio.
Dengan kesal Rio bangkit dari kursinya, mengambil handuk dan segera masuk ke kamar mandi.

Sabtu pagi hari Tiara melanjutkan menyelesaikan tugasnya, didepan laptop sejenak dia terdiam mengingat-ingat kembali mimpi semalam. Bathinnya berbisik ” Apa kabar Rio ? “. Dia merasa bukan seperti mimpi tapi nyata bertemu dengan Rio.
” Ah … mungkin aku hanya rindu pada Rio” bisik hati kecilnya yang lain menepis hayalannya untuk bisa bertemu di alam nyata.
Kembali Tiara tenggelam menyibukan diri untuk segera menyelesaikan tugasnya.

Jam sudah menunjukan pukul 14.00 wib, ketukan pintu kamar menghentikan aktifitas Tiara dengan laptopnya.
” Hai …Tiara, pa kabar ? ” suara Arjuna menyapanya.
” Alhamdulilah baik ka ” jawab Tiara datar.
” Sedang apa kamu di dalam kamar, info ibu dari pagi nggak keluar ? ” Arjuna masih mencecar pentanyaan pada Tiara.
” Aku sedang mengerjakan tugas yang kemarin kak, untuk persiapan sidang ” jawab Tiara masih datar.
” Ada yang bisa aku bantu untuk menyelesaikan tugasmu Tiara ? ” tanya Arjuna lagi.
Tiara masuk kedalam kamarnya, membawa laptop dan buku-buku sebagai referensinya dalam menulis tugas.
” Bantuin bacain ya kak, biar cepat aku menulisnya ” sambil tersenyum Tiara menyerahkan buku tersebut pada Arjuna.
” Baik tuan putri, perintah akan hamba kerjakan ” jawab Arjuna sambil tertawa lebar.

Mereka terlihat asik bekerjasama, sesekali terlibat diskusi untuk memberikan koreksi dari buku-buku yang mereka jadikan acuan.
Tertawa lepas pun terkadang terdengar ditelinga ibu Tiara. Dibalik dapur sang bunda tersenyum bahagia sambil menyiapkan cemilan buat mereka berdua.

Sebelum pergi meninggalkan kostnya, Rio memasukan kertas yang bertuliskan nama Tiara kedalam rangselnya. Berharap akan ada mimpi lagi yang serupa malam nanti. “Tiara…, andai kau tau aku disini menanti, karna semua cinta dan kenangan tlah kau bawa pergi.
Maka jangan salahkan aku akan selalu menanti sampai kabarmu aku dapatkan dengan pasti. ” bathin Rio berbisik meyakinkan dirinya kalau Tiarapun masih menanti kehadirannya. Laju sepeda motornya membawanya pergi untuk sementara waktu meninggalkan semua tentang Tiara dan harapannya untuk kembali lagi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here