Beranda Ruang Cerpen Sebuah Perjalanan Cinta Part XXI

Sebuah Perjalanan Cinta Part XXI

121

Suara azan menyambut kedatangan Tiara dan Arjuna tepat dipintu masuk rumah Tiara. Ibu Tiara langsung menyambut kedatangan mereka. Arjuna berpamitan untuk sholat maghrib di rumah Tiara.

Tiara masuk kedalam kamarnya untuk mandi membasuh tubuh dan mukanya yang terasa lengket oleh debu. Ibu Tiara bergegas ke dapur untuk membuatkan secangkir teh untuk Arjuna dan camilan kecil sebagai temannya.

Selesai sholat Arjuna duduk dan menyeruput teh buatan ibu sekaligus memberitahukan tentang keberangkatannya serta meminta ibu dan bapak ikut mengantar kepergiaannya bersama Tiara.

Ada rasa khawatir di hati Arjuna jika Tiara berubah pikiran dan membatalkan untuk ikut mengantarnya. Arjuna ingin mengenalkan pada beberapa saudara dan temannya yang belum mengenal Tiara dan orangtuanya, sementara dengan orang tuanya Tiara sudah pernah diperkenalkan.

Selesai mandi dan sholat magrib di mushola rumahnya, Tiara menghampiri Arjuna. Setelah menuntaskan sedikit obrolan dengan ibu Tiara, Arjuna berpamitan pulang pada mereka. Tak lupa Arjuna mengingatkan untuk mengantarnya di hari kamis besok.

Mengantar Arjuna pulang sampai pagar depan rumahnya, berkali-kali Tiara menatap wajah Arjuna. Ada raut enggan meninggalkan rumah, ditatap tajam oleh Tiara membuat Arjuna salah tingkah. Menaruh helm yang hendak dia pakai berjalan kembali mendekati Tiara.

” Aku pulang dulu ya, jangan lupa kamis nanti ” sambil memegang tangan Tiara dengan nada suara yang berat.
Tiara tergagap dan menjawab singkat ” eh… iya kak “.
Tersenyum dan berlalu meninggalkan Tiara. Seketika suara deru motor dan tatapan perpisahan di malam itu sesaat lenyap, bersama hilangnya suara motor yang ditumpangi Arjuna.

Masuk kedalam kamarnya Tiara merenung akan kejadian dan rasa yang dia alami hari ini. Ada rasa yang sulit saat ini dia jabarkan dan mengerti. Ada rasa ketakutan dalam hati Tiara. ” Tidak … Tidak boleh, hal ini tidak boleh terjadi ” bathin Tiara.
berkali-kali bayangan kejadian-kejadian bersama Arjuna di hari ini bermain-main dipelupuk mata Tiara.

” Ya Tuhan…., bukan dia yang kuharapkan. Jangan dia ….jangan …. ” bathin Tiara berontak.
” Aku benci jika harus mencintai dia …. tanamkan itu selalu dihatiku…. jangan lebih dari itu. ..please Tuhan ” doa-doa penuh harap dipanjatkan Tiara dimalam itu. Tanpa terasa Air matanya jatuh membasahi bantal dari sudut-sudut matanya. Dia ingin bangkit dan menemukan kembali cinta yang dulu sempat ada dan akhirnya pergi hilang bersama sejuta kenangan secara perlahan tapi bukan bersama Arjuna.

 

To be Continued.. -> https://wiwiekhargono.com/2020/03/24/sebuah-perjalanan-cinta-part-xxii/

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here