Beranda Ruang Cerpen Sebuah Perjalanan Cinta Part XXVIII

Sebuah Perjalanan Cinta Part XXVIII

398

Naik Taxi adalah pilihan Tiara untuk pulang dengan segera ke rumahnya. Segera Tiara naik kopaja menuju pangkalan taxi dekat kampusnya. Lega rasanya setelah ada satu buah taxi menghampirinya, segera dia memasuki taxi dan memberitahu kemana kepergian mereka. Pembicaraan dengan sinta terngiang-ngiang bersama ke akrabannya dengan Arjuna akhir-akhir ini sepanjang perjalanan pulang.

Sampai dirumah segera Tiara masuk kamar mandi dan bersiap-siap merapihkan dirinya. Diruang makan sudah menunggu ibu bapak Tiara. Nampak kegelisahan di wajah mereka karena kepulangan telat Tiara ke rumah siang hari itu.

” Tiara, Ayoo cepet dari tadi Arjuna sudah menelpon menanyakan kamu ” teriak ibu pada Tiara.
” Iya bu, udah kok ini ” jawab Tiara sambil sambil berlari kearah mereka.

Sampai di terminal penumpang sudah berkumpul Arjuna dengan keluarga besar dan teman-temannya. Melihat kedatang Tiara beserta keluarganya Arjuna tersenyum lebar, mengampiri dan menyambut kedatangannya.

” Alhamdulilah datang juga, kok telat pak macet ya ” tanya Arjuna pada ayah Tiara.
” Alhamdulilah lancar cuma nunggu Tiara tadi agak telat ” jawab ayah Tiara.

Percakapan berlanjut sambil berjalan menuju rombongan mereka, Tiara hanya mengikuti dari belakang bersama ibunya langkah Arjuna dan Ayahnya. Setelah bertemu Arjuna mengenalkan Tiara pada semuanya, walau ada diantara mereka yang sudah mengenal Tiara termasuk bapak ibu Arjuna.

Tiga puluh lima menit lagi para penumpang harus masuk kedalam kapal karena persiapan untuk keberangkatan. Bergegas Arjuna menarik lengan Tiara, mencari lokasi tempat duduk yang jauh rombongan mereka.

“Tiara hari aku pergi dulu ya, jaga diri baik-baik” Arjuna mengulang harapannya yang sama beberapa hari yang lalu.
” Tiara mau denger cerita nggak ? banyak hal sebetulnya yang ingin saya ceritakan pada Tiara ” sekali lagi Arjuna bicara.

Tiara hanya diam memandang Arjuna. Saat itu dihatinya hanya ingin jadi pendengar yang baik karena diapun nggak tau apa yang harus dia ucapkan pada Arjuna. Sambil memegang tangan Tiara, ada harapan yang kuat akan jawaban agar jawaban yang akan diberikan Tiara sesuai harapannya.

” Tiara mau nunggu sampai aku kembali lagi ke Jakarta kan ? ” tanya Arjuna sekali lagi. Tiara masih terdiam membisu sambil terus menatap Arjuna. Arjuna berulang kali mengulangi pertanyaannya, dan Tiara masih diam membisu.

” Arjuna ayo ” teriakan salah satu temannya menyadarkan Tiara dan Arjuna bahwa waktu pertemuan mereka sudah habis. Menengok kearah suara kembali sambil berucap ” jawab tiara, aku nggak akan pergi sebelum dengar jawaban kamu “.
Tiara menatap ke arah rombongan dan kembali tatapannya pada Arjuna. Dengan berat hati Tiara menjawab agar mereka tak ditunggu-tunggu banyak orang.

” Baik ka, semoga lancar perjalanan dan tugasnya disana ” jawab Tiara.
” Terima kasih Tiara, sampai disana aku akan segera telpon kamu, jangan sering pulang telat kuliah ya, kasihan ibu ” pesan Arjuna.
Tiara berdiri dan mereka berjalan menuju rombongan.

Arjuna dan teman-temannya dari kejauhan melambaikan tangan kearah Tiara dan keluarga besar yang mengantar. Sebaliknya mereka pun membalas lambaian tangan Arjuna dan kawan-kawannya.

Pandangan Tiara mengecil perlahan dihadapan Arjuna seiring laju kapal yang membawanya. Sulit buat Arjuna mengungkapkan rasa dalam hatinya pada Tiara sejak pertama kali bertemu.

Perasaan takut untuk dijauhi Tiara lebih besar saat dia menyatakan rasa itu. Yang jelas dia berharap Tiara suatu saat akan memberikan rasa cinta dan sayang hanya pada dirinya seorang.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here