Beranda Ruang Cerpen Sebuah Perjalanan Cinta Part XXXIV

Sebuah Perjalanan Cinta Part XXXIV

283

Suasana makan malam terasa hangat dan begitu akrab dengan kehadiran Ita dan adeknya, karena pembicaraan tidak hanya berfokus pada pekerjaan ataupun tugas kuliah mereka.

” Malam sabtu kok di dalam kamar aja mas ?” tanya ayah Ita pada Arjuna.
” Eh iya pak lagi nulis biar cepat selesai data-data yang saya butuhkan pak ” jawab Arjuna menutupi keadaan yang sesungguhnya.

” Dia pingin cepet-cepet pulang pak ” goda salah seorang teman Arjuna.
” Kenapa nggak betah ya di sini ? ” tanya ayah Ita lagi.
” Nggak pak betah kok, makasih banyak atas sambutannya pada kami. Ijin pak apa besok saya boleh meminjam kendaraan untuk ke kantor pos dan wartel ? ” tanya Arjuna.

” Oh boleh aja, silahkan nanti bilang saja sama ibu ya kalau mau berangkat ” pesan ayah Ita pada Arjuna.
” Baik pak, Terima kasih banyak ” jawab Arjuna.
” Ita ikut ya kak sekalian mau beli keperluan sekolah disana ” pinta Ita pada Arjuna.
” Baik dek, nanti jam 8nan ya kita berangkat ” ajak Arjuna.
” Asekkk makasih banyak ya kak ” jawab Ita mendengar jawaban Arjuna dengan wajah bahagia.

Ita segera bangkit membereskan piring-piring yang ada di meja makan karena Ayahnya dan yang lainnya sudah mulai meninggal meja makan. Arjuna segera kembali ke dalam kamarnya untuk menulis surat pada Tiara.

Rencananya besok mau dia poskan sekaligus menelponnya. Semoga Tiara ada di rumah, doanya agar dia bisa mendengar lagi suara Tiara yang sangat dia rindukan.

Malam ini terasa lama berakhirnya buat Arjuna. Sang mentari yang dia tunggu-tunggu seakan enggan muncul segera dipermukaan. Tidurnya tak nyenyak, sebentar-bentar dia terbangun. Berharap pagi segera menjelang.

Surat buat Tiara dia taruh dibawah bantalnya dan berkali-kali dia ambil dan dekap dalam pelukannya. Berharap Tiara segera membalas surat dan cintanya agar tenang jiwanya dan sempurna harapan serta jalan kehidupannya. Sepanjang malam Arjuna berdoa sampai lelah dan akhirnya tertidur pulas membawa impian agar segera menjadi kenyataan.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here