Beranda Ruang Cerpen Sebuah Perjalanan Cinta Part XXXV

Sebuah Perjalanan Cinta Part XXXV

169

Sabtu pagi Arjuna sudah berpakaian rapih, mempersiapkan semuanya dengan sebaik mungkin. Agar apa yang perlu dia bawa tak ada yang ketinggalan termasuk surat untuk Tiara, serta rasa cinta dan rindu yang besar didalam hatinya. Keluar kamarnya segera mencari ibu Ita untuk meminjam kendaraan, seperti pesan pak Ibrahim ayah Ita.

Sedang asiik di dapur menyiapkan sarapan dan teh hangat buat seluruh anggota keluarga yang ada di akhir pekan ini.
” Assalamualaikum ibu, mohon maaf mengganggu ” sapa Arjuna.
” Waalaikumsalam, eh nak Arjuna. Sudah rapih mau kemana ? Ayo kita sarapan dulu ibu sudah buatkan untuk semua ” Jawab ibu Ita.

“Ijin ibu mohon maaf, saya hendak meminjam kendaraan untuk ke kantor pos dan wartel menelpon keluarga di Jakarta bu ” ijin Arjuna pada ibu Ita.
” Oh iya nak, silahkan tapi sarapan sama-sama dulu ya ” jawab ibu Ita pada Arjuna.
” Baik ibu ” menyambut tawarannya.

Mereka sarapan bareng di meja makan bersama keluarga besar pak Ibrahim dan teman-teman Arjuna. Sebentar-bentar Arjuna melirik jam tangannya yang sudah menunjukan jam 9 pagi.

Meleset dari rencana awal keberangkatan. Sepakat akhirnya mereka akan pergi membawa mobil karena teman-teman Arjuna pun ikut bersama, termasuk Ita. Untuk membeli keperluan sekolahnya, tepat pukul 10 pagi mereka berangkat meninggalkan rumah Ita.

Minggu pagi Tiara membantu ibu membersihkan rumah dan memasak di dapur. Banyak aktifitas yang ingin dia lakukan agar tak terlalu merasa kesepian mengisi akhir pekannya.

Tanpa terasa waktu sudah menunjukan pukul 12 siang. Tiara mempersiapkan makan siang untuk keluarganya dan makan bersama ibu bapaknya. Tanpa sedikitpun pembicaraan menyinggung Arjuna.

Selesai merapihkan semuanya, segera dia melaksanakan sholat dhuhur dan berniat segera beristirahat setelah dari pagi sibuk beraktifitas bersama ibunya.

Memasuki kamar dan merebahkan diri diatas kasur tempat dia biasa untuk memanjakan diri dan menumpahkan segala keluh kesahnya. Tak lama matanya terpejam, terbayang wajah Arjuna dan Rio seakan dipelupuk matanya, segera dia tepis tak ingin bayang-bayang itu hadir dalam angan-angannya. Tiara menutup erat agar segala yang dia rasa saat ini mati, tak akan pernah berani timbul lagi.

Saat asiik membuang segala hal yang akan membuai segala mimpinya, tiba-tiba kamarnya diketok dan namanya dipanggil, ada sebuah telepon untuk dirinya. ” Ah, Puji pasti baru mau ngabarin kalau dia nggak jadi datang tadi pagi ” pikir Tiara tentang sahabat semasa SMA nya dulu.

” Assalamualaikum, Ayo mau alasan apalagi sih bu ” ledek Tiara pada sahabatnya dari gagang teleponnya.
” Waalaikumsalam Tiara, apa kabar dek ” sapa Arjuna membuat Tiara tercengang, mendengar suara orang yang hendak dia hapus dari ingatannya.

” Eh, kak Arjuna, Alhamdulilah baik kak, gmn kabar kakak ? ” jawab Tiara pada Arjuna sedikit tergagap dan berubah lebih ceria.
” Alhamdulilah baik dek, mohon maaf ya baru sempat kasih kabar. Dan hari ini aku poskan surat ya nanti kamu balas, ada alamatnya di sana sudah kakak tulis. Seminggu dua kali ya dek kirim suratnya buat hiburan kakak disana. ” pinta Arjuna sekalian menjelaskan kondisi dan keadaan dia disana.

To be continued… -> https://wiwiekhargono.com/2020/04/05/sebuah-perjalanan-cinta-part-xxxvi/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here